Perencanaan pembelajaran siklus 4 dirancang untuk dua pertemuan Bahasa Indonesia kelas IX-B dengan model Project-Based Learning (PjBL) bertopik berbalas pantun. Pertemuan pertama berfokus pada latihan membacakan pantun dengan intonasi, jeda, lafal, gestur, gerak, dan kepercayaan diri melalui proyek Panggung Berbalas Pantun. Pertemuan kedua mengembangkan proyek menjadi video berbalas pantun yang dipublikasikan melalui media sosial resmi kelas/sekolah. Perangkat telah memuat identifikasi kebutuhan murid, tahapan proyek, alokasi waktu, asesmen awal–proses–akhir, rubrik keterampilan, rubrik produk, dan etika digital.
Materi siklus 4 mencakup pengertian dan struktur berbalas pantun, teknik penampilan, penandaan jeda dan tekanan, pengaturan intonasi, lafal dan volume suara, gestur, ekspresi, gerak, posisi tubuh, serta cara mengelola demam panggung. Pada pertemuan kedua, materi diperluas dengan pembuatan video, struktur konten, caption, tagar, dan etika digital seperti izin orang tua/wali, perlindungan data pribadi, bahasa santun, serta respons terhadap komentar. Materi disajikan bertahap dan dilengkapi contoh naskah bertanda jeda serta panduan praktik sehingga mendukung kebutuhan murid yang masih gugup ketika tampil.
Media pembelajaran yang digunakan meliputi PowerPoint, video contoh berbalas pantun, kartu/naskah pantun bertanda jeda, lembar kerja proyek, kamera telepon genggam, aplikasi penyunting video, timer, dan Google Form. PPT memuat struktur berbalas pantun, teknik vokal dan gestur, cara mengatasi demam panggung, pilihan format video, serta etika digital. Variasi media mendukung pembelajaran visual, auditori, membaca-menulis, dan kinestetik, sekaligus menghubungkan kegiatan kelas dengan produk digital. Penggunaan media dinilai telah memenuhi aspek kesesuaian dan partisipasi murid, tetapi efektivitas penggunaan media tetap perlu dijaga. Perbaikan dapat dilakukan dengan memberi demonstrasi penggunaan tanda jeda secara langsung, serta memastikan semua murid memiliki peran.
Penilaian guru pamong pada siklus 4 mencakup instrumen penyusunan perangkat pembelajaran dan praktik mengajar. Pada instrumen perangkat, sejumlah aspek diberi skor 3 (baik), dengan catatan antara lain kelengkapan identitas dan kompetensi belum terlihat sepenuhnya. Pada instrumen praktik mengajar, skor perolehan yang tercantum adalah 77. Kekuatan praktik tampak pada apersepsi, dorongan kolaborasi, pemberian umpan balik, respons terhadap pertanyaan murid, penggunaan media, refleksi, penyusunan kesimpulan, penilaian performa, pengaturan waktu, serta perlakuan profesional kepada murid. Beberapa aspek yang masih perlu ditingkatkan meliputi ketepatan materi/konsep, penyesuaian materi berdasarkan kemampuan dan latar belakang murid, serta kepercayaan diri praktikan. Hasil penilaian ini dapat digunakan untuk memperjelas perangkat, memperkuat penguasaan konsep, dan meningkatkan keyakinan saat memfasilitasi kegiatan.
Pada siklus 4, pembelajaran diarahkan pada latihan berbalas pantun secara bertahap, mulai dari menandai jeda dan tekanan, melatih intonasi serta gestur, hingga menampilkan pantun dan menyiapkan karya video untuk media sosial. Penekanan pembelajaran tidak hanya pada isi pantun, tetapi juga pada keberanian tampil, komunikasi, kerja sama, dan pelestarian budaya melalui media digital. Instrumen guru pamong menunjukkan bahwa praktikan telah memberi umpan balik, merespons pertanyaan, menggunakan media, serta menutup pembelajaran dengan refleksi dan kesimpulan. Hal yang perlu terus diperhatikan ialah ketepatan penyampaian konsep, dukungan bagi murid yang masih gugup, dan pemerataan partisipasi anggota kelompok.