Perencanaan pembelajaran siklus 2 dirancang untuk tiga pertemuan menggunakan model Problem-Based Learning yang dipadukan dengan Desain Universal Pembelajaran (DUP). Materi meliputi perbandingan pantun, syair, dan gurindam, analisis informasi tersurat dan tersirat, serta makna denotatif dan konotatif melalui permasalahan yang dekat dengan kehidupan murid. Berdasarkan asesmen awal dengan rata-rata 79,1, sebanyak 48% murid sangat siap dan 31% siap, tetapi masih terdapat kesulitan membedakan puisi lama dan memahami pesan tersirat. Kebutuhan tersebut difasilitasi melalui QR code berisi video, infografis, dan teks, kebebasan memilih media belajar, serta variasi format produk. Guru pamong memberikan nilai 93,75, meningkat dari siklus 1. Namun, kelengkapan identitas, kompetensi, pemetaan kemampuan murid, dan rumusan tujuan masih perlu diperjelas. Selain itu, pembagian peran kelompok, kesesuaian tujuan pada modul dan PPT, alokasi waktu, serta kejelasan masalah pada pertemuan pertama perlu diperbaiki.
Materi disusun secara bertahap sesuai kebutuhan belajar murid, mulai dari perbandingan pantun, syair, dan gurindam, analisis informasi tersurat dan tersirat, hingga pemahaman makna denotatif dan konotatif. Pembelajaran dilengkapi contoh teks, tabel ciri, langkah analisis, kartu masalah, pedoman jawaban, dan glosarium dengan tema yang dekat dengan kehidupan murid, seperti semangat belajar, kebersihan kelas, dan pertemanan. Guru pamong memberikan skor 4 pada cakupan materi, kajian teori, dan teknik scaffolding, sedangkan kesesuaian materi dengan kemampuan dan latar belakang murid masih mendapat skor 3. Perbaikan perlu dilakukan pada judul modul agar mencakup seluruh materi, kesesuaian tujuan pada slide, ketepatan contoh pantun terutama penggunaan rima, serta kelengkapan pedoman jawaban pada LKPD pertemuan pertama dan kedua.
Media pembelajaran yang digunakan meliputi PPT, QR code berisi video, infografis dan teks, kartu masalah, Kartu Bantuan, Wordwall, LKPD, LKM, Canva, kamera ponsel, serta Padlet. Penggunaan QR code menjadi keunggulan karena memberikan pilihan sumber belajar sesuai minat murid, sedangkan infografis dan tampilan slide yang kontras membantu murid memahami materi. Guru pamong memberikan skor 4 pada variasi, efektivitas, dan keterlibatan murid melalui media, tetapi kesesuaian media dengan tujuan dan kebutuhan murid dalam praktik masih mendapat skor 3. Beberapa perbaikan yang diperlukan ialah menyelaraskan isi PPT dengan modul dan LKPD, melengkapi slide dengan media pendukung yang direncanakan, menyesuaikan contoh latihan dengan materi, serta menyediakan bahan cetak sebagai alternatif apabila murid mengalami kendala ponsel atau jaringan internet.
Penilaian guru pamong menggunakan dua instrumen, yaitu penyusunan perangkat dan praktik mengajar, yang masing-masing memperoleh nilai 93,75 atau kategori sangat baik, meningkat dari 91,25 pada siklus 1. Pada penyusunan perangkat, 15 indikator mendapat skor 4 dan lima indikator mendapat skor 3, terutama terkait kelengkapan identitas, kompetensi, pemetaan kemampuan murid, rumusan tujuan, dan sumber belajar. Sementara itu, pada praktik mengajar, peningkatan terlihat pada keaktifan murid, penguasaan materi, efektivitas media, dan penilaian performa murid. Namun, kolaborasi kelompok, kesesuaian materi dan media, kejelasan bahasa, serta kepercayaan diri masih perlu ditingkatkan. Bahasa dan kepercayaan diri bahkan mengalami penurunan dari skor 4 pada siklus 1 menjadi 3 pada siklus 2. Oleh karena itu, perbaikan selanjutnya difokuskan pada penyederhanaan instruksi, latihan menjelaskan materi dengan lebih tenang, pembagian peran yang jelas, dan penguatan bukti pemetaan kemampuan murid.
Video pembelajaran siklus 2 menampilkan praktik mengajar materi persamaan dan perbedaan pantun, syair, dan gurindam di kelas IX-B. Murid memilih media belajar melalui QR code, mempelajari materi, membuat mind mapping, dan mengerjakan LKPD dengan pendampingan praktikan. Kegiatan ini menunjukkan keterlibatan murid serta memberikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan pemahaman melalui pilihan media dan produk. Meskipun demikian, antusiasme murid belum tentu menunjukkan pemahaman yang mendalam, dan beberapa murid masih merasa gugup ketika tampil di depan kelas. Hasil penilaian guru pamong juga menunjukkan bahwa kejelasan bahasa dan kepercayaan diri masih perlu diperbaiki. Pada siklus berikutnya, praktikan perlu menyampaikan instruksi secara singkat dan jelas, lebih tenang saat menjelaskan, memastikan setiap anggota kelompok berpartisipasi, serta mengatur waktu agar presentasi dan refleksi dapat berlangsung optimal.